Yang Belum Punya Rekening Online Paypal

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Jumat, Juni 25

PENDIDIKAN GRAFIS DESAIN

Pada dasarnya dunia desain grafis kita belum jauh beranjak dari pengaruh bayang‐bayang
dunia desain grafis barat (meskipun mungkin sudah tak relevan lagi bicara Barat Timur).

Namun kenyataannya, desain grafis di Indonesia seperti halnya dunia Pop yang tak pernah
lepas dari tren dan style yang ada di belahan dunia Barat sana. Lalu Pop biasanya bagian
melekat dari dunia industri. Maka tak heran jika gaya desain grafis yang muncul ke permukaan adalah gaya yang seragam, teknis yang seragam, dan akhirnya seolah semua orang bisa menjadi desainer grafis karena murahnya beli software/plug ins yang beredar
ilegal. Desain grafis kita jadi generik. Yang terjadi kemudian adalah ketika semua 0rang bisa membuat gaya desain yang sama, maka apa yang akan dijual oleh setiap desainer? kecuali berani menjual fee desain dengan harga murah dan cepat! Belum lagi persoalan rendahnya apresiasi masyarakat terhadap desain grafis. Adanya kecenderungan beberapa desainer mengambil untung dari separasi dan cetakan bukan dari design fee, juga merupakan fenomena yang sedikit banyak memberi sumbangan terhadap rendahnya apresiasi terhadap harga sebuah desain.

Persoalan oversupply jumlah lulusan mahasiswa desain grafis itu merupakan keniscayaan
jika dibandingkan dengan jumlah pertumbuhan ketersediaan jumlah biro/agency yang tak
seimbang. Namun para lulusan calon desainer tersebut harusnya dilengkapi dengan
kemampuan enterpreneurship yang tinggi dan harus punya kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya. Industri saat ini begitu luas, jika kita lihat dunia global. Orang bisa bekerja dari mana pun melalui dunia maya, ini pun peluang besar. Belum lagi daerah daerah di luar pulau Jawa dengan peluang otonomi daerah mereka mempunyai kemampuan dana besar untuk membranding daerahnya. Orang cenderung melihat industri itu hanya pada ruang lingkup biro grafis atau graphic house di Jakarta saja, padahal sumber mata uang yang berlimpah itu ada di Kalimantan, Batam, Papua dll yang belum tersentuh pekerjaan desainer grafis!

Saran‐saran untuk lingkungan akademisi :

1. Meningkatkan mutu desain grafis baik dari segi artistik, ketepatan waktu, maupun
service
2. Bereksperimen mencari kemungkinan ide inovatif, baik dalam hal ideasi maupun teknis eksekusi
3. Membangun jejaring kerja sama dengan industri, instansi pemerintahan, LSM, pemerintahan daerah (profesional dan UKM) secara online dan offline, nasional /internasional.
Upaya Mahasiswa yg bisa dilakukan :

1. Aktif mengikuti ikuti ajang kompetisi internasional melalui dunia maya / internet,
sebagai uji coba kualitas berstandard internasional, tak berorientasi harus industri lokal, dalam rangka mengumpulkan portfolio yg berlaku global.
2. Membuat portfolio pada situs2 freelance di dunia maya, deviant art, peluang kerja
desain grafis semakin terbuka lebar asalkan mhs siap dengan perkembangan teknologi yg
semakin membutuhkan skill dan wawasan
3. Punya kesadaran kuat untuk mempunyai skill yang dapat diandalkan serta mempunyai style atau gaya yang dibangun agar tidak terjebak pada peniruan masal karena adanya template dan plug ins yang dijual bebas
4. Mempunyai kesadaran dan etos kerja yang berorientasi pada profesionalisme
5. Kritis pada fenomena desain yang terjadi pada masyrakat industri dan akademis
Mengutip komentar Djoko Hartanto untuk para mahasiswa :
Bekerja keras, apa yang ditabur itu juga dituai, kalau sekarang menabur waktu untuk
sungguh‐sungguh belajar, bereksperimen, kerja keras mengasah skill, nantinya akan
menuai spirit dan skill seorang desainer yang kampium.Judul diatas dikutip dari Majalah
Concept tahun 2005 Vol. 01 adisi 05, dan sekarang sudah tahun 2008, mari kita lihat dan
ternyata memang lulusan DKV sudah Oversupply

Tidak ada komentar:

Posting Komentar